Film dibuka oleh prolog mengenai kegagalan Malekith (Christopher Eccleston), pemimpin ras Dark Elves, dalam memberdayakan kekuatan maha dahsyat bernama Aether. Cerita kemudian melaju beribu-ribu tahun kemudian saat Loki (Tom Hiddleston) menerima hukuman kurungan seumur hidup atas ulahnya memorak porandakan New York (ingat kembali ending THE AVENGERS).
Sementara itu Thor (Chris Hemsworth) bersama pasukan Asgard, baru saja menyelesaikan tugas mendamaikan kekacauan di sembilan alam karena ulah Loki. Namun dugaan bila keadaan membaik rupanya salah besar karena Malekith kembali bangun saat tanpa sengaja tubuh Jane Foster (Natalie Portman) menyerap kekuatan Aether.
Tahu wanita yang dicintai dalam bahaya, Thor memboyong Jane menuju Asgrad. Hingga kemudian terjadi invasi Malekith dan kelompoknya demi mengambil alih Aether.
Untuk menghentikan semua kekacauan itu, Thor mengajak Loki bekerja sama dan mengkhianati kerajaan. Mampukah keduanya meredam emosi dan rasa ketidakpercayaan satu sama lain demi Asgard dan keamanan sembilan alam?
Film animasi yang satu ini mengisahkan tentang petualangan dua ekor ayam kalkun yang memiliki sifat berlawanan. Reggie (Owen Wilson) diajak oleh teman lamanya, Jake (Woody Harrelson) untuk berpetualang ke masa lalu. Untuk apa Jake melakukannya? Jake hanya punya satu tujuan yaitu mengubah sejarah dengan cara menghapus kalkun dari daftar menu pada perayaan Thanksgiving untuk selamanya.
Kemenangan Katniss Everdeen (Jennifer Lawrence) dalam perhelatan Hunger
Games ke-74 membuat Capitol merasa dipecundangi. Hal itu dilandasi
keberadaan Katniss yang dijadikan simbol 12 distrik di Panem untuk
melakukan pemberontakan pada pemerintahan.
Tak ingin tinggal diam, Presiden Snow (Donald Sutherland) dengan
tiraninya merancang strategi untuk membuat Katniss dibenci secara pelan
tapi pasti. Salah satu cara yang dipilih ialah dengan mengadakan Quarter
Quell, perhelatan Hunger Games yang berisikan para pemenang dari
permainan-permainan terdahulu.
Dalam keadaan terdesak demi menyelamatkan keluarga dan kekasihnya,
Katnis bersama Peeta Mellark (Josh Hutcherson) melaju mengikuti
permainan. Namun mereka tidak sadar bila di balik reality show yang
digemari warga Capitol itu, telah terjadi banyak persekongkolan.
Setelah terseok-seok membuktikan diri bahwa animasi mereka masih relevan pada zaman di mana perkembangan teknologi semakin canggih, Walt Disney kembali menghadirkan pendar pesonanya. Lewat fitur bertajuk FROZEN yang menjadi animasi ke-53 mereka, perusahaan ini mengukuhkan diri bahwa kedigdayaan yang pernah diraih tak pernah memudar.
FROZEN sendiri merupakan film garapan Chris Buck dan Jennifer Lee. Naskahnya dikembangkan dari dongeng klasik Hans Christian Anderson berjudul The Snow Queen.
Mengetengahkan kehidupan Elsa (Idina Menzel) dan Anna (Kristen Bell), dua putri cantik di kerajaan Arandelle. Setelah insiden yang hampir membuat nyawa adiknya melayang, Elsa yang memiliki kekuatan menciptkan es terpaksa mengurung diri agar kelebihannya tak membahayakan orang lain.
Namun semua menjadi tak mudah semenjak kedua orang tuanya meninggal karena kecelakaan laut. Elsa yang harus meneruskan tahta kerajaan, memilih lari lantaran takut kekuatannya mencelakai banyak orang.
Sayang, kabur dari tanggung jawab tidak menyelesaikan masalah karena salju malah menimbun Arandelle. Tak mau keadaan semakin parah, Anna ditemani Kristoff (Jonathan Groff), pria penjual balok es, mencari kakaknya agar mengembalikan keadaan seperti semula.
Dan jangan lupakan kehadiran Olaf, karakter manusia salju yang disuarakan Josh Gad. Sosoknya yang lucu dan baik hati mampu memikat, mencuri perhatian. Tak salah bila kemudian dia menjadi idola baru Disney, berdiri tegak di belakang Anna dan Elsa.
Ceritanya sederhana, yakni menceritakan tentang Irving Zisman yang baru saja ditinggal mati istrinya. Belum cukup duka yang dialami pria berusia 86 tahun tersebut, dia terpaksa harus mengurus cucunya Billy (Jackson Nicoll) setelah puterinya Kimmie (Georgina Cates) harus mendekam lagi dalam penjara.
Irving pun terpaksa harus mengurus Billy sementara waktu dan membawanya dalam sebuah perjalanan menuju Raleigh untuk menitipkan Billy pada ayahnya, Chuck (Greg Harris) yang meminta bayaran $600 untuk merawat Billy. Bisa ditebak perjalanan tersebut akan diisi begitu banyak kegilaan yang dilakukan oleh Irving Zisman, sang kakek sinting berusia 86 tahun.
Ceritanya tentu saja hanya menjadi pengisi seadanya diantara rangkaian aksi gila yang mengisi film ini. Namun setidaknya Bad Grandpa masih mencoba memberikan hati pada kisahnya yang bertutur tentang kakek dan cucunya yang awalnya tidak saling menyukai namun perlahan perjalanan yang ada menyatukan keduanya, menumbuhkan rasa sayang diantara keduanya.
Petualangan Bilbo kembali berlanjut dalam film kedua dari trilogi epik THE HOBBIT yang diadaptasi berdasarkan novel berjudul sama karya JRR Tolkien terbitan George Allen & Unwin, September 1937. Menggunakan sub judul THE DESOLATION OF SMAUG, sudah terbayang bila film ini bakal menjawab rasa penasaranmu mengenai sosok Smaug, sang naga gila harta yang selama ini hanya digambarkan dari mulut ke mulut penghuni Middle Earth.
Melanjutkan cerita pada film pertama, bagian kedua ini mengetengahkan sisa perjalanan Bilbo (Martin Freeman) bersama Thorin dan kurcaci lain menuju gunung sunyi—the lonely mountain. Sayangnya kali ini mereka tidak lagi ditemani oleh Gandalf (Ian McKellen) yang memisahkan diri untuk menyambangi Dol Guldur.
Tanpa Gandalf, perjalanan memang menjadi tak mudah. Bilbo dan teman-temannya harus melawan laba-laba raksasa di hutan Mirkwood, lari dari kejaran gerombolan Orc serta ditangkap oleh bangsa peri. Lalu, menghadapi banyak rintangan, bisakah Bilbo dan kawanan kurcaci sampai ke tujuan dan merebut apa yang pernah diambil oleh naga Smaug?
Berbeda dengan bagian pertama, AN UNEXPECTED JOURNEY, yang cenderung setia pada novelnya, petualangan Bilbo kali ini lebih intens. Melupakan format 48 frame per second, THE DESOLATION OF SMAUG berhasil menjadi sajian yang seru dengan penataan ritme cerita yang terjaga. Meski durasinya lumayan panjang, namun Peter Jackson—as always—sukses membuat penonton penasaran sampai film ditutup dengan ending yang membuatmu ingin berteriak: "Tahun depan cepatlah datang!"
Membuat trilogi besar berdasarkan buku setebal 300-an halaman bukan pekerjaan mudah. Tentu saja ada tambal sulam serta penambahan karakter agar jalan cerita lebih kompleks. Untuk itu jajaran penulis naskah menambahkan kehadiran Legolas (Orlando Bloom) dan Tauriel (Evangeline Lilly) yang tak ada dalam buku, dengan romansa cinta segitiga bersama salah satu kurcaci tampan bernama Kili. Uniknya, ide ini malah membuat film kedua semakin menarik walau kita tahu kepada siapa cinta sejati Legolas akhirnya berlabuh.
Bagi yang sudah menunggu-nunggu penampakan Smaug, ini juga menjadi kejutan yang akan membuatmu bersorak gembira. Aktor Benedict Cumberbatch, berhasil mengisi suara naga ber-aksen menggemaskan serta visualisasinya yang seram.
Didukung dengan teknologi sekarang, Peter Jackson kembali mempersembahkan petualangan yang seru dan mnemikat. Tak hanya didukung oleh ensemble cast yang mumpuni, setting, editing, visual efek, musik saling mengisi satu sama lain membuat film ini sangat sayang untuk dilewatkan begitu saja. Mari siapkan diri untuk berpetualang!
Ketika ibunya (Dewi Irawan) memutuskan untuk pindah dari rumah semasa dia kecil, Dika (Raditya Dika), seorang penulis, justru berusaha pindah dari hal-hal yang selama ini dia susah untuk lepaskan: cerita cintanya yang lama dengan Jessica (Eriska Rein) hingga hubungannya dengan bapaknya (Bucek Depp).
Meskipun kurang menyetujui rencana ibunya pindahan, namun Dika tetap membantu. Mereka mencari rumah yang baru, satu demi satu. Pengalaman lucu mereka dapatkan ketika rumah yang mereka kunjungi ternyata tidak ada yang cocok. Satu rumah ada yang jelek banget, rumah lainnya ada kuburan dan bekas orang gantung diri. Mereka sempat putus asa, sampai akhirnya Dika menemukan sebuah rumah, yang menurut ibunya sempurna. Di saat ini juga Dika bertemu dengan Patricia (Kimberly Ryder) seorang cewek nan cantik, dan mulai melakukan pendekatan.
Masalah timbul ketika sudah pindah rumah, karena Dika tidak menyukai rumah barunya. Kenangan dengan rumah lama masih membekas. Sementara itu, hubungan Dika dengan Patricia juga terganggu, karena mantan Dika, Jessica tanpa dia sadari masih membayang-bayanginya.
Hal menggelikan terjadi ketika Dika mendapatkan supir (Insan Nur Akbar) yang bau ketek, dan menyebabkan Dika mengalami dilema untuk memecatnya atau mengorbankan paru-parunya. Adik Dika, Edgar (Griff Pradapa), juga bersiap untuk ujian nasional dengan cara-cara yang aneh. Kelakuan bapaknya yang ingin dekat dengannya, tapi melalui cara yang mengesalkan Dika, juga membuat momen tersebut jadi komedi yang mengharukan.
Dika pada akhirnya menyadari bahwa perjalanannya untuk pindah rumah, juga merupakan perjalanan dia untuk berpindah dari hal-hal yang selama ini menahan dia untuk tumbuh menuju kedewasaan. Ternyata keputusan untuk berkomitmen, adalah keputusan untuk berpindah seperti rombongan jutaan Salmon yang menempuh perjalanan 1.448 km untuk kawin, dibayangi berbagai ancaman predator.
Dika (Raditya Dika), penulis, baru saja putus cinta dengan Nina (Pamela Bowie). Semenjak itu, dia percaya bahwa cinta bisa kadaluarsa. Kosasih (Soleh Solihun), agen naskah Dika, mencoba untuk membuat Dika yakin terhadap cinta kembali, seperti Kosasih dengan istrinya Wanda (Tyas Mirasih). Usaha ini, membawa Dika ke dalam serangkaian perkenalan absurd.
Bagi penggemar Formula 1, tentu sangat mengenal nama Niki Lauda dan
James Hunt serta rivalitas mereka di arena balap. Perseteruan itulah
yang dihadirkan dalam fitur terbaru besutan sutradara kelas Oscar, Ron Howard, bertajuk RUSH.
Kisah dimulai saat Niki Lauda (Daniel Bruhl) dan James Hunt (Chris
Hemsworth) bertemu di lomba balap kelas teri, Formula 3. Saat itu
keduanya masih sangat amatir dan semau gue.
Namun, siapa yang menyangka bila cekcok tersebut berujung pada sebuah
drama persaingan. Terutama saat keduanya berlaga dalam perhelatan yang
ditasbihkan sebagai musim terpanas sepanjang sejarah F1. Perhelatan yang
mengubah hidup mereka.
Journalist Anne Roland explores the disturbing links behind her friend's sudden disappearance, an ominous government research chemical, and a disturbing radio broadcast of unknown origin.
Wartawan Anne Roland menyelidiki di balik menghilangnya teman-temannya secara tiba-tiba, bahan kimia penelitian pemerintah, dan sinyal mengganggu siaran radio yang tidak diketahui asalnya.
Sebuah film laga bertajuk Big Ass Spider! menyajikan sebuah konsep serupa film-film klasik bertema manusia melawan hewan raksasa. Film-film seperti ini serupa dengan King Kong yang dipadu dengan Godzilla bercampur Tremors. Aktor Greg Grunberg menjadi tokoh utama yang hadir dengan gaya jenakanya. Ia ditemani oleh bintang-bintang lain seperti Ray Wise, Lombardo Boyar, Lin Shaye, serta Clare Kramer.
Tampak kota Los Angeles di Amerika Serikat hancur hanya karena ulah seekor laba-laba raksasa yang kabur dari laboratorium militer. Banyak tentara yang datang menghadapi makhluk mengerikan tersebut, namun tidak berdaya untuk menghabisinya. Akhirnya, seorang tokoh pembasmi laba-laba yang diperankan oleh Greg Grunberg pun ditugaskan untuk menghabisi makhluk raksasa tersebut. Ia ditemani oleh seorang penjaga keamanan yang diperankan Lombardo Boyar.
Uniknya, sang laba-laba raksasa diperlihatkan dominan di atas sebuah gedung bertingkat. Adegan yang mengingatkan kita pada film legendaris King Kong. Selain itu, ada juga unsur yang menyerupai film-film semacam Godzilla ataupun Pacific Rim. Disutradarai oleh Mike Mendez dan ditulis oleh Gregory Gieras, Big Ass Spider! menyuguhkan cukup banyak unsur komedi dan fiksi ilmiah.
Setelah mengalahkan Dr Siddhant Arya yang jahat, dan membawa ayahnya
Rohit kembali dari kematian. Krrish terus berjuang melawan kejahatan dan
menyelamatkan nyawa - nyawa yangtak berdosa. Sekarang Krishna hidup
bahagia menikah dengan Priya, sementara Rohit menggunakan kemampuan
ilmiahnya kepada masyarakat untuk hal baik. Krrish kini adalah pahlawan
yang disukai masyarakat.
Tapi ada sebuah kekuatan gelap yang tumbuh di bagian dunia lain. Kaal
adalah seorang jenius yang jahat, egois dan menyalahgunakan kekuatannya
untuk menebar ketakutan, kematian dan kehancuran. Kaal juga menciptakan
tentara yang sangat berbahaya untuk membantu niat jahatnya.
Saat aksi Kaal mulai berjalan, Rohit dan Krrish menemukan diri mereka
dihadapkan sebuah dilema yang hanya mereka bisa selesaikan bersama-sama.
Namun saat mereka berhadapan dengan Kaal dan pasukannya, keduanya tidak
siap untuk apa yang mereka hadapi.
Kaal tidak hanya membawa dunia ke ambang kehancuran, Dia juga
menempatkan kekuatan dan kasih Krishna dan keluarganya untuk diuji. Dan
Krrish harus menemukan cara untuk melawan kekuatan yang tidak
terkalahkan. Pertempuran antara kebaikan dan kejahatan dimulai.
Runner Runner berkisah tentang seorang mahasiswa Princeton bernama
Richie Furst (Timberlake). Richie adalah seorang mahasiswa cerdas yang
dahulu pernah memiliki karir cemerlang dan penghasilan yang besar ketika
dirinya bekerja di Wall Street. Namun… kesuksesan itu telah lama menghilang.
Karena hal tersebut, Richie kini membiayai biaya kuliahnya dengan
mempromosikan situs-situs judi online kepada teman-temannya dimana
Richie kemudian menerima bayaran dari situs-situs perjudian tersebut.
Setelah dekan kampusnya mengancam akan mengeluarkan Richie akibat
aktivitas perjudian yang dilakukannya, Richie kemudian memilih jalan
cepat untuk mendapatkan uang: dengan berjudi di salah satu situs
perjudian online yang direkomendasikannya.
Hasilnya? Richie kalah besar dan harus kehilangan seluruh uang yang
selama ini ia tabung untuk biaya kuliahnya. Tidak mau menerima
kekalahannya begitu saja, Richie lalu menganalisa permainan judi yang
baru saja ia ikuti. Dari hasil analisa tersebut, Richie mengetahui bahwa
situs judi tersebut telah mencurangi seluruh pemainnya.
Berniat untuk merebut kembali uang tabungannya yang telah hilang, Richie kemudian memutuskan untuk berangkat ke Costa Rica
dan menemui Ivan Block (Affleck) yang merupakan pemilik situs judi
online terbesar di dunia, termasuk situs judi tempat Richie menghabiskan
uangnya. Walau pada awalnya Ivan bersikeras untuk tidak menemui Richie,
namun kecerdasan Richie dalam menganalisa situs judi yang ia miliki
akhirnya menarik perhatian Ivan.
Tidak hanya Ivan bersedia untuk mengembalikan seluruh uang Richie, Ivan
juga menawarkan pekerjaan di perusahaan judinya kepada Richie. Dengan
bayaran yang sangat besar, Richie jelas tidak menolak pekerjaan
tersebut. Awalnya, pekerjaan yang diberikan Ivan terkesan begitu mudah
untuk dijalani Richie. Namun, seperti yang dapat ditebak, Richie mulai
mencium ada ketidakberesan dalam perusahaan Ivan yang akhirnya, secara
perlahan, turut menjerat Richie dan dapat saja menghancurkan
kehidupannya.
"Force of Execution" is the story about a crime lord torn between his
legacy and his desire to get out of the life of crime that has built his
empire, when a new player to the scene tries to use the town
anti-hero's network to climb to power. The only friend the crime lord
has is his assassin protégé who has troubles of his own. An epic battle
of under bosses and crime lords. Only one will come out alive.
"Angkatan Eksekusi" adalah cerita tentang seorang tuan kejahatan
terpecah antara warisan dan keinginannya untuk keluar dari kehidupan
kejahatan yang telah membangun kerajaannya, ketika seorang pemain baru
ke TKP mencoba untuk menggunakan jaringan kota anti-hero untuk naik ke
kekuasaan. Satu-satunya teman tuan kejahatan memiliki anak didik adalah
pembunuhnya yang memiliki masalah sendiri. Pertempuran epik di bawah bos
dan penguasa kejahatan. Hanya satu akan keluar hidup-hidup.
Pemerintah Amerika Serikat menyewa Machete untuk menumpas gembong
narkoba berbahaya. Gembong narkoba tersebut mengancam keamanan nasional
dengan senjata berbahaya.
The film centers on Jake Tilton, who acquires a mystical "monkey's paw"
talisman that grants its possessor three wishes. Jake finds his world
turned upside down after his first two wishes result in co-worker Tony
Cobb being resurrected from the dead. As Cobb pressures Jake into using
the final wish to reunite Cobb with his son, his intimidation quickly
escalates into relentless murder-- forcing Jake to outwit his psychotic
friend and save his remaining loved ones.
Film ini berpusat pada Jake Tilton, yang memperoleh mistis "cakar
monyet" jimat yang memberikan pemiliknya tiga nya keinginan. Jake
menemukan dunianya terbalik setelah pertama dua keinginan menghasilkan
rekan kerja Tony Cobb yang dibangkitkan dari antara orang mati. Sebagai
tekanan Cobb Jake ke menggunakan keinginan terakhir untuk menyatukan
kembali Cobb dengan anaknya, intimidasi dengan cepat meningkat menjadi
pembunuhan tanpa henti - memaksa Jake untuk mengecoh teman psikotik dan
menyelamatkan orang-orang tercinta yang tersisa nya.
Ini merupakan kali pertama Dr Ryan Stone (Sandra Bullock) menginjakkan kaki di luar angkasa. Ditemani astronot berpengalaman bernama Matt Kowalski (George Clooney), ia menjalankan misi sederhana yakni menanam prototipe di sebuah satelit milik Amerika.
Namun Tuhan punya takdir sendiri. Meledaknya satelit milik Rusia membuat pesawat Explorer yang mereka tumpangi hancur terkena debris-debris berkecepatan tinggi.
Tak pelak, kecelakaan dahsyat itu membuat keduanya terombang-ambing di luar orbit bumi. Dengan perlengkapan seperti oksigen dan bahan bakar yang sewaktu-waktu bisa habis, mampukah keduanya kembali pulang ke bumi?
Oke, mungkin premisnya sangat sederhana. Dua orang astronot terombang-ambing di ruang hampa udara 600 kilometer dari atas bumi.
Namun, butuh waktu bertahun-tahun bagi Alfonso Cuaron untuk merealisasikan proyek ambisius ini. Tentu saja karena pada saat itu industri perfilman dunia belum memiliki kecanggihan seperti sekarang.
Maka, inilah karya hebat seorang Alfonso Cuaron setelah perjuangan yang tak pernah kenal kata lelah. Dibuat dengan hati, hasilnya pun berhasil mencuri hati siapapun atas mahakaryanya.
GRAVITY berhasil menghipnotis, memberimu banyak ketakutan-ketakutan juga air mata hanya dalam 90 menit.
Dengan detail yang sangat terjaga, artistik, visual efek, sinematografi, akting serta tata musik yang sempurna, tak ada kata lain yang bisa diucapkan selain: luar biasa.
Bila saja tahun 2013 sudah berakhir, mungkin GRAVITY akan menjadi film terbaik tahun ini. Cukup. Tidak berlebihan, namun kamu perlu menyaksikan sendiri salah satu pengalaman sinematik terdahsyat yang pernah ada bila ingin membuktikan.
Dalam ending film pertama, Josh (Patrick Wilson) berhasil menyelamatkan nyawa anaknya, Dalton (Ty Simpkins) yang tersesat di dunia lain. Kini, giliran kepala keluarga Lambert tersebut yang tubuhnya dirasuki oleh roh jahat dengan tujuan tertentu.
Awalnya, Renai (Rose Byrne) percaya bila suaminya telah kembali. Namun saat terdengar denting piano tanpa ada yang memainkan, benda-benda di rumah mertuanya bergerak sendiri, dan anak bungsunya, Kali, menangis karena diganggu roh wanita bergaun putih, dia tahu ini merupakan awal dari mimpi buruk yang belum selesai.
INSIDIOUS besutan James Wan yang rilis pada tahun 2011 silam berhasil memberikan pakem baru dalam fitur horor Hollywood. Karena pencapaian serta kritik yang cukup baik tersebut, tidak heran bila sekuelnya dibuat meski sebenarnya tidak perlu ada. Atau memang perlu, tapi tidak usah memasang ekspetasi tinggi.
Itulah yang saya lakukan saat menonton fitur kedua James Wan tahun ini setelah THE CONJURING: minim ekspetasi. Tapi teror yang disajikan dalam bagian kedua film ini rupanya bekerja cukup baik.
Walau tidak ada hal baru, INSIDIOUS: CHAPTER 2 sukses memberi terapi apa yang diperlukan dalam sebuah paket horor. Dengan tone kehijauan yang menguarkan atmosfer kelam dan pedih, serta musik menyayat olahan Joseph Bishara, Wan berhasil meramu teror menawan.
Terutama keefektifan jump scares scene yang tersebar secara pas hampir sepanjang film. Dijamin, bakal membuatmu berteriak hingga terlonjak dari kursi.
Duet Patrick Wilson dan Rose Byrne pun terbilang cukup lancar menghidupkan kembali karakter mereka. Membuat penonton peduli bagaimana akhir dari kisah keluarga Lambert ini. Belum lagi nama-nama pendukung seperti Barbara Hershey, Steve Coulter, Lin Shaye serta duet kocak Angus Sampson dan Leigh Whannell, penulis naskah film ini yang ikut eksis.
Bagian terbaik mungkin elemen time travel yang dimasukan untuk menjahit bagian dalam film pertama. Bukan ide yang brilian memang, namun cukup seru.
Bagi yang puas dengan film ini, Jason Blum selaku pemilik BlumHouse Production sudah menunjuk Leigh Whannell untuk kembali mengeksekusi naskah bagian ketiga.
Namun apakah Wan bakal kembali membesut, itu yang menjadi pertanyaan. Mengingat sutradara kelahiran Kuching, Malaysia, tersebut memutuskan berhenti nahkodai film horor. Kita berharap saja Wan mengubah niatnya dan kembali membesut waralaba ini.
Satu lagi invasi tawa dari Inggris untuk tahun ini setelah The World’s End. Kali ini datang dari Steve Coogan dengan perannya sebagai Alan Partridge atau codename Alpha Papa. Karakter yang mungkin terdengar asing di telinga kita, namun di Inggris Raya, Alan Partridge merupakan karakter fiktif populer yang diciptakan Coogan bersama kreatif di BBC Radio 4.
Karakter tersebut digambarkan sebagai seorang presenter radio dan televisi dengan perangai yang sedikit narsis namun bodoh. Kurang lebih mirip dengan karakter-karakter fiktif yang diperankan oleh Sacha Baron Cohen dalam beberapa filmnya.
Alan Partridge: Alpha Papa bercerita tentang karakter di dalam judul yang berusaha menyelamatkan karirnya dengan menjadi negosiator dalam sebuah peristiwa penyanderaan di North Norfolk Digital Radio. Penyandera tersebut menyekap mantan rekan kerjanya yang bernama Pat (Colm Meaney).
Alpha Papa ditangani oleh Declan Lowney dengan naskah ditulis keroyokan oleh Peter Baynham, Armando Lannucci, Neil, dan Rob Gibbons.
Rambo dan Terminator muncul lagi, kali ini keduanya berada di action thriller terbaru sutradara Swedia, Mikael Håfström (1408, The Rite). Ya, kita sudah pernah melihat penampakan Stallone dan Arnie sebelumnya dalam satu film ketika bergabung di dua seri franchise ‘senang-senang’, The Expendables. Tetapi Stallone terlalu mendominasi, sementara Arnie tampil terlalu singkat, tentu saja itu tidak cukup untuk memuaskan mimpi basah para penonton veterannya yang berharap dua jagoan mereka berbagi layar dengan layak dan sepantasnya.
Escape Plan bisa jadi adalah jawaban dari semua mimpimu, dan buat Summit dan Lionsgate, ini sekaligus bisa jadi lumbung dollar yang besar mengingat baik Stallone dan Schwarzenegger punya fans lintas generasi yang jumlahnya tidak sedikit.
Stallone menjadi Ray Breslin, mantan jaksa penuntut umum cerdas yang punya hobi dan pekerjaan aneh; Menghabiskan 14 tahun hidupnya keluar masuk penjara demi penjara guna menjajal sistem keamanan mereka yang katanya super ketat. Jadi selama ini bersama perusahaan jasa keamanannya, Breslin-Clark, Breslin selalu berhasil membobol setiap penjara yang dimasukinya, tetapi tidak untuk yang satu ini. Penjara yang ditawarkan oleh seorang pengacara CIA ini berbeda.
Tidak ada seorangpun yang tahu di mana lokasinya, setiap selnya terbuat dari kaca tebal, jadi seperti dalam akuarium raksasa, semua bisa melihat aktivitasmu. Lalu ada penjagaan super maksimum dari kamera-kamera disetiap ruangan, penjaga-penjaga kejam bertopeng hitam yang dipimpin oleh sipir brutal, Willard Hobbs (Jim Caviezel) dan tangan kanannya, Drake (Vinne Jones) yang sama gilanya, mereka menamakan penjara itu “The Tomb”. Dan untuk lolos dari “kuburan” maut itu, Breslin membutuhkan bantuan dari sesama napi, Emil Rottmayer (Arnold Schwarzenegger)